Jumat, 11 Oktober 2013




Ranggalawe adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai “pemberontak” pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur, sampai saat ini.


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta 

Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. Tujuh bidadari tua mengelilingi tubuhnya yang tegak berdiri -bahkan kematian tak mampu merubuhkannya. Mereka melempari tubuh yang mematung itu dengan bunga. Hanya angin malam yang sanggup menyaksikannya. Angin yang sejak 10 tahun yang lalu menggerakkan rombongan itu dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya. Dan malam itu selesailah semuanya. Angin tak sanggup lagi menggerakkan mereka menuju pemberhentian berikutnya. Lalu angin pelan-pelan mati. Dan tak mampu menggerakkan dirinya sendiri.
”Malam ini adalah pertunjukan terakhir kami. Tak ada lagi yang menginginkan kehadiran kami. Tak ada lagi yang menyaksikan kami. Kami tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sini.” Seseorang gendut berkaos hitam membuka acara. Di belakangnya berjajar para aktor mengenakan kostumnya masing-masing. Wajah-wajah yang tak bahagia telah disembunyikan sejak sore tadi di balik bedak. Kakek-kakek di balik wajah Menak Jingga yang merah mencoba berdiri tegak. Ranggalawe yang berdiri di sampingnya demikian pula. Sebentar lagi mereka akan bertarung untuk terakhir kalinya.
Lalu pertunjukan pun dimulai setelah beberapa orang naik ke panggung untuk menyampaikan simpati -sejumlah puisi. Mereka berduka atas kematian dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas kematian ini? Malam itu tak sebagaimana biasanya, mereka meninggalkan tobongnya -tobong yang sesungguhnya telah lama kosong. Kain-kain dekorasi mereka pasang di beberapa penjuru, layar-layar yang sudah tak sanggup menggambarkan apa-apa. Mereka telah lama kehilangan warna. Serupa bendera-bendera kematian. Gerbang tobong juga mereka pasang sebagai penanda merekalah satu-satunya rombongan ketoprak tobong yang tersisa.
Ratu Kencana Wungu duduk di atas singgasananya. Kursi kayu bercat merah yang terlambat dibawa masuk ke panggung. Kelihatan karena tak ada layar untuk menutup pergantian. Semuanya diputuskan untuk dibuka malam itu. Termasuk kegagalan mereka untuk bertahan sebagai seniman.
Kencana Wungu lantas menembang menyapa yang datang. Patih Logender duduk di hadapannya, manggut-manggut menerima kenyataan bahwa suara Kencana Wungu terlalu lirih untuk sebuah pertunjukan di tengah lapang. Yang riuh rendah oleh suara kendaraan dan pasangan-pasangan muda yang pacaran di atas sepeda panjang. Rarasati si Patih Dalam tak kebagian kursi. Ia berdiri saja di samping Kencana Wungu. Sementara para ksatria duduk di bawah, bersesakan dan saling menutupi: Layang Seta, Layang Kumitir, Menak Koncar, dan beberapa prajurit tanpa nama alias bala depak yang senantiasa terdepak.
Panggung sudah terlalu sempit untuk menampung tubuh-tubuh mereka. Negeri dalam keadaan baik-baik saja, demikianlah yang kutangkap samar-samar dari percakapan mereka. Rakyat hidup makmur kerta raharja. Tak kurang suatu apa. Mereka tampak gembira dengan sandiwara itu. Bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Patih Logender memamerkan kesaktian sepasang anaknya, Seta dan Kumitir. Hanya Adipati Tuban, Ranggalawe, yang tak kelihatan batang hidungnya. Adipati paling sakti itu konon sedang bertapa di rumahnya. Mungkin pula tak punya ongkos berangkat ke Majapahit. Bisa saja.
Kulihat ke belakang. Cukup banyak juga yang datang. Orang-orang yang sekadar lewat. Atau sejumlah orang yang melayat. Kabar kematian kelompok ini memang sudah disebar di koran-koran dan facebook. Seorang anak kecil yang duduk di belakangku bertanya pada bapaknya. Itu apa? Ketoprak, jawab bapaknya. Lalu Menak Jingga di samping panggung memukul kepraknya. Rupanya malam itu ia merangkap sebagai dalang sekaligus tukang keprak. Bunyi keprak itu membangunkan Angkat Buta yang sejak awal tiduran di belakang gamelan.
 Ia pun bergegas masuk ke dalam panggung untuk menyampaikan pesan junjungannya, Menak Jingga. Si Adipati buruk rupa itu menagih janji sang Ratu Ayu. Dulu semasa ia masih bernama Jaka Umbaran yang berwajah tampan ia pernah dijanjikan untuk mendapatkan Kencana Wungu jika berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, pemberontak yang sakti mandraguna. Sang pemberontak berhasil dikalahkan, tapi Jaka Umbaran terpaksa pulang dengan wajah dan tubuh babak belur. Jika tak ada Dayun yang menolong mungkin ia sudah lama mati.
Rarasati merobek-robek surat itu. Layang Seta dan Layang Kumitir tanpa perintah selain karena pongah menghajar utusan dari Blambangan itu. Angkat Buta berlari ke alun-alun. Angkat Buta selalu menantinya di sana selama bertahun-tahun. Perang tak terhindarkan. Gantian para bala dupak mendapatkan ruang. Dengan gagah berani mereka berperang. Melakukan adegan-adegan berbahaya. Beberapa kali mereka terlontar ke luar panggung. Terkapar di tanah lapang lalu dengan cepat bangun lagi mengejar sang lawan. Ada juga prajurit yang kedua tangannya buntung. Ialah yang paling kerap terlontar keluar panggung. Penonton terbahak dan bersorak meski adegan perkelahian ini sama sekali tak menawan.
Ada pula yang malah jatuh kasihan. Bisa ditebak, mereka telah mengulanginya beratus kali, Layang Seta dan Layang Kumitir kalah. Logender menolongnya dan membiarkan utusan-utusan Blambangan itu pulang.
Di Lumajang enam perempuan menari-nari. Menari sejadi-jadinya.

Mas mas mas aja dipleroki (Mas mas mas jangan dipelototin)
Mas mas mas aja dipoyoki (Mas mas mas jangan digodain)
Karepku njaluk diesemi 2 (Pinginnya minta disenyumin)

Ruang pecah berkeping-keping. Mereka menyebar ke segenap penjuru membawa piring. Mendatangi penonton satu per satu, menjual cendera mata: gantungan kunci bertuliskan Ketoprak is the place where we live and where we die… berlatar orang sendirian mendirikan atap tobong di langit yang biru cerah. Mereka terus beredar dalam kegelapan. Ada pula yang membawa bonang dan meminta uang. Lagu berlanjut. Apa saja yang penting berirama dangdut. Beberapa penonton naik ke panggung dan bergoyang. Lalu lampu tiba-tiba mati.
Gamelan terus dibunyikan. Lagu terus dinyanyikan. Beberapa orang tampak sibuk mencari kesalahan. Menyusuri kabel demi kabel. Memeriksa bensin di dalam generator. Berkali-kali mereka pernah mengalaminya, mengulang kesalahan-kesalahan yang sama. Berkali-kali mereka ngebut di jalanan masih dengan pakaian wayang untuk membeli bensin agar pertunjukan tetap bisa dilanjutkan. Alhamdulillah, lampu mati tak lama. Lampu yang semenjana itu menyala kembali. Perempuan-perempuan itu sudah kembali ke panggung dan menjadi istri-istri dari Adipati Menak Koncar. Lalu adegan domestik di tengah lapangan, bocor-bocor tak karuan. Percakapan yang lamat-lamat itu terus berlangsung hingga Menak Jingga menabuh keprak untuk menandai kedatangannya sendiri. Ia masuk ditemani Dayun, abdinya yang setia.
Menak Koncar menyambutnya dengan hangat meski tahu tak berapa lama lagi mereka akan bertengkar dan ia akan kehilangan Mentarwati, istrinya yang pertama. Pertengkaran dimulai ketika Menak Jingga meminta bantuan Menak Koncar untuk mengawinkannya dengan Kencana Wungu. Menak Koncar meledak marah. Ia tak sanggup membayangkan ratunya yang jelita bersanding dengan manusia buruk rupa. Mentarwati bersedia mencarikan jodoh untuk Menak Jingga. Tapi Menak Jingga keras kepala. Sambil menyembah-nyembah kaki Mentarwati, Menak Jingga terus menyebut-nyebut nama Kencana Wungu. Mentarwati sebal dan memukul kepala Menak Jingga. Pertarungan kembali terjadi di atas panggung sempit itu.
Kali ini yang tampil adalah prajurit-prajurit perempuan. Dengan gerak yang luar biasa kikuk -jangan dibayangkan pertarungan antara Lasmini versus Mantili dalam film Saur Sepuh- mereka saling pukul dan tusuk. Penonton yang jumlahnya sudah jauh berkurang kembali terbangun. Bertepuk tangan menyemangati pertempuran prajurit Lumajang dan Blambangan.
Pertempuran itu berakhir dengan tewasnya Mentarwati. Menak Jingga menusuk tubuh perempuan itu berali-kali dengan kerisnya. Menak Koncar datang terlambat. Ia hanya mendapati tubuh istrinya yang dingin dan berlumuran darah. Ia menangis dan pelan-pelan mengangkat tubuh istrinya. Adegan yang direncanakan dramatis itu hancur berantakan. Menak Koncar ternyata tak kuat membopong tubuh perempuan itu. Makan nasi sehari sekali dengan selingan mie instan ternyata membuat Adipati Lumajang itu kekurangan tenaga. Tak ada yang datang membantunya. Penonton kembali bersorak. Mereka menyemangati Menak Koncar dengan tepuk tangan.
Akhirnya dengan susah payah, juga didorong rasa malu, ia berhasil membawa istrinya keluar panggung. Dan buru-buru dijatuhkannya begitu sampai di tepian panggung.Lalu lagu gembira mencoba membangkitkan suasana. Gending Badutan Sragen: Rewel. Omonga terus terang yen pancen kowe bosen. Ora perlu kakehan alasan… (Bicaralah terus terang jika kamu bosan. Tidak perlu banyak alasan…)
Seorang pelawak masuk ke panggung dan me­nari sekenanya. Ia pelawak karena kumisnya mirip Hitler. Entah sejak kapan pelawak-pelawak kita memakai kumis macam itu. Mungkin sejak mereka menonton Charlie Chaplin.
Mungkin pula suatu kali seorang pelawak pendahulu secara tak sengaja mengusapkan jelaga di atas bibirnya. Lalu dua kawannya datang menyusul. Penonton menanti kelucuan apa yang akan mereka munculkan. Tapi tak ada. Mereka sudah terlalu lelah untuk mencari bahan lawakan. Mereka hanya bercanda tentang lapar. Mereka pura-pura makan sampai kenyang. Mereka memesan makanan-makanan terenak yang mereka impikan. Dua bungkus rokok dilemparkan kepada mereka. Seorang pelawak pun turun ke panggung, memungutnya. Ia melempar satu bungkus ke arah para penabuh gamelan.
Di tengah mereka berkhayal makan sate kambing datang seorang penonton memberi amplop. Minta lagu Prau Layar, katanya. Am­plop itu pun dibuka. Berisi duit yang langsung me­reka hitung satu per satu. Lembaran-lembaran uang berwarna merah itu berjumlah tujuh lembar. Semua orang bertepuk tangan. Mungkin itu adalah saweran paling banyak yang pernah mereka dapatkan. Sayang mereka mendapatkannya di pertunjukan terakhirnya.
Malam ini mungkin mereka akan mendapat lebih dari 2.000 rupiah per orang, tidak seperti malam-malam biasanya. Mereka memanggil juragan mereka naik ke atas panggung. Sang juragan, lekaki berkaos hitam yang tadi membuka acara mengucapkan terima kasih atas bentuk simpati tersebut. Dan ia pun menyanyikan Caping Gunung karya maestro keroncong Gesang yang baru saja meninggal dunia. Para pelawak mengingatkan bahwa mereka seharusnya menyanyi Prau Layar. Tapi lelaki itu mungkin tak mendengarnya. Ia menyanyi Caping Gunung.
Ia meminta para pelawak menari. Tapi tak ada yang menari. Setelah lagu selesai kembali ia mengulang kata pamitnya. Malam ini kami pamit mati. Seperti syair sebuah lagu, katanya.

Lilanana pamit mulih… (Relakanlah aku pamit pulang…)
Lilanana pamit mulih (Relakan aku pamit)
Pesti kula yen dudu jodhone (Aku memang bukan jodohmu)
Muga enggal antuk sulih (Semoga segera mendapat ganti)
Wong sing bisa ngladeni slirane (Orang yang bisa mendampingimu)
Pancen abor jroning ati (Memang berat rasanya)
Ninggal ndika wong sing ndak tresnani (Meninggalkan orang yang kucintai)
Nanging badhe kados pundi (Tapi mau bagaimana lagi)
Yen kawula saderma nglampahi3 (Aku cuma sekadar melakoni)

Lelaki itu kemudian memanggil seorang tamu yang datang dari Jakarta. Seorang aktivis perempuan yang cantik. Ia meminta perempuan itu menyampaikan orasinya. Sang perempuan dengan berapi-api mengutuk kematian-kematian seni tradisi. Ia menyalahkan masyarakat yang tak lagi menghargainya. Ia menyalahkan pemerintah yang tak pernah merawatnya. Ia menyalahkan organ dangdut yang mematikan sawah para seniman tradisi. Lalu ia turun dan pertunjukan kembali berlangsung.
Malam sudah larut. Sebagian besar penonton sudah pulang. Sudah larut malam pula di Kadipaten Tuban. Sang Adipati Ranggalawe tengah bercakap-cakap dengan istrinya. Ia merisaukan keadaan Majapahit yang tak lagi tentram. Percakapan tampak dipercepat. Mungkin karena penonton yang semakin sedikit. Ranggalawe buru-buru ke sanggar pamujan. Berdoa dan membakar kemenyan. Ia bersila membelakangi penonton. Sebuah tembang palaran mengalun keras dari mulutnya. Menak Koncar datang menemuinya.
 Melaporkan kebrutalan Menak Jingga yang makin menjadi-jadi. Menak Koncar menangisi kematian istrinya, menangisi Lumajang yang sudah berada di genggaman Menak Jingga. Bergetar dada Ranggalawe mendengar tangisan Menak Koncar, kemenakannya. Segera ia memanggil Wangsapati ajudannya. ”Ambil Payung Tunggul Naga, malam ini aku akan berangkat ke Lumajang!”
Adegan pertemuan Ranggalawe dan Menak Jingga segera disusun. Menak Jingga menyambut kedatangan Ranggalawe dengan baik. Ia menghaturkan hormat pada orang yang paling disegani di Majapahit itu. Ranggalawe dengan tenang mendengarkan kisah Menak Jingga.
Ia bisa mengerti perasaan Menak Jingga yang kecewa karena ditolak oleh Ratu Kencana Wungu. Dalam hal ini ia menyalahkan Kencana Wungu yang mengingkari janjinya.
 Tapi ia juga mengutuk Menak Jingga yang telah membuat huru-hara di Majapahit. Maka, dengan segala hormat ia minta Menak Jingga menghentikan pemberontakannya. Menak Jingga menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf tak bisa menghentikan semuanya. Maka keduanya pun berhadapan.
Tak ada yang bisa menandingi kesaktian Ranggalawe selama Payung Tunggul Naga tetap memayunginya. Menak Jingga yang terdesak segera menghujani Wangsapati si pembawa payung dengan panahnya. Pengawal nahas itu pun terjungkal dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Ranggalawe terus maju. Ia tak peduli dengan apa-apa lagi. Kematian Wangsapati begitu melukai hatinya. Dengan cepat ia berhasil menangkap Menak Jingga. Ia injak kepala adipati yang berwarna merah itu. Menak Jingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia bahkan harus merelakan Gada Wesi Kuning andalannya direbut oleh Ranggalawe.
Tetapi saat Ranggalawe mengangkat gada itu tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia mati. Tubuhnya tanpa Payung Tunggul Naga adalah tubuh paling lemah yang pernah ada. Ia kehilangan nyawa karena mengangkat Gada Wesi Kuning. Bidadari-bidadari dengan rambut panjang terurai segera berlari mengelilinginya. Menak Jingga me­me­rintahkan agar tubuh pahlawan itu dibawa pulang ke Blambangan. ”Makamkan ia dengan upacara kehormatan!”
Pertunjukan selesai. Pertunjukan terkahir mereka. Dengan cepat mereka mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku juga. Malam menunjuk pukul 12 tepat. Di jalan aku berpapasan lagi dengan mereka. Ranggalawe berjalan sendirian lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beberapa pemain lain menyusul di belakangnya. Aku tak tahu ke mana mereka akan pulang malam ini. Tobong yang sudah 10 tahun mereka diami telah mengusir mereka.

Posted on 08.25 by Unknown

No comments

Rabu, 02 Oktober 2013



NGEKOPI MALAM HARI DI POJOKKAN


Sehabis shalat magrib terdengar dari dalam kamar suara bb ku berbunyi, “ting tung ting tung”. Aahhh siapa sih ini barusan juga magrib baru selesai, sudah ada pesan baru masuk, celetuku sambil berjalan menuju kamar. Ku ambil hape di atas telivisi kamarku, ku buka unlocknya lalu ku lihat siapa pengirim pesan bbm tadi. “Heemmmmm !!!!!!!!, ternyata ewer, teman karibku, mau ngajak ngekopi nanti malam di tempat biasanya kami berkumpul dan menghabiskan malam di suatu tempat. Ya nama aslinya itu Dwi Prasetyo tapi teman-teman biasa memanggilnya “Ewer”. “Nanti malam ngopi yuk, jam 8 ya”,begitu bunyi pesan bbm nya kepadaku. Baru jam segini tumben udah ngajak ngopi, padahal baru jam 6 petang, heuheuheu. “Okelah nanti merapat ke tempat biasa, jam 8 malam aku kerumahmu”. Ku enter lalu kukirim balesan pesan bbm tadi pada ewer, sembari ku beri emo keep smile dibawahnya.   
Ku letakan lagi bb tadi di kamar, langsung pergi ke belakang ke ruang makan. Selesai makan istirahat sebentar di ruang tamu, sembari menunggu balesan bbm tadi dari Ewer. Ngomong-ngomong bbm kok lama balesnya, ku ambil lagi hape ke kamar, kuperiksa, “huuffff……” dalam anganku ternyata masih pending, pantesan gak ada responya, dan terpaksa nunggu pesan terkirim. Sembari nunggu pesan bbm dateng cepat ku merapat ke depan tv, ku langsung teringat kalau malam ini adalah malam minggu. Barclays Premier League,,, ya itulah acara yang sudah aku tunggu-tunggu dari sore tadi selama sepekan dan tayang di malam minggu ini, itu tontonan yang sangat menghibur dan menggairahkan bagi kami para jombloan-jombloan, termasuk yang nulis ini, “heheheh…………. (senyum cemberut). Dan jujur nih aku sendiri fans The Red Devils “Manchester United”.
Nyalakam tv ganti chanel ke BeinSport, chanel yang biasanya nayangin pertandingan-pertandingan di Liga Premier League Inggris sob. Tampak dari dalam kamar jam sudah beranjak ke jam 7 malam, bersamaan dengan itu bb ku berbunyi, pasti balesan bbm dari ewer tadi, cukup lama juga masuknya. Ternyata bener “Okey, ke pojokan sambil nobar bareng low”, begitu pesan bbmnya. “Siap”….. dengan muka semangat, cclliinnggg.
Lanjut focus ke acara tv tadi, menunggu-nunggu tim mana yang main malam mini, lebih seru lagi kalau ada derby di malam minggu. Ternyata jam awal malam ini jam 9 malam, yang maen tuh Tothenham Hotspur lawan Chelsea, waahhh bakalan seru juga nih pertandingan. Masih lamanya kick off dimulai, sejenak membaringkan tubuh di kasur kamar ini, sambil nonton acara di tv, kegiatan para jomblo di malam minggu akan selalu bisa di tebak oleh siappa pun itu, tiduran di depa tv. Terdengar suara lagi “ting tung ting tung”, ada pesan baru lagi masuk, ada dua pesan sekaligus. Ternyata Mas Relly, dan pesan dari kak Dedy. “Prab ayo mengko ngopi” pesan dari mas Relly yang ku baca. “Ngopi yuukk nanti” itu pesan dari kak Dedy tampak ingin mengajaku menikmati secangkir kopi hitam malam ini. Lalu ku balas pesan mereka tadi, “oke sam, jam 8 yok merapat” pesan balesan pada mas Relly, “yyuukk kak nanti sama ewer juga kok ngopinya, siipp” pesan pada kak Dedy.
Terbayang nanti ramenya suasananya malam minggu, nongkrong, seduh kopi, sambil ngomongin bola, tim kesukaan, dan ngalur ngidul pokoknya serta malam minggu yang menambah akrab suasana. Ya begitulah, seiring kami semua ngumpul di pojokan terkadang juga tak jarang ngomongin hal-hal pribadi dan keseharian kita masing-masing, curhat istilah kerennya. Denting jam pun bertambah, ku lihat ke arah jam dinding diluar sudah hampir jam 8 malam ternyata, tepat 19.50 WIB. Terbangun dari tiduran di kamar bergegas ke belakang cuci muka, biar kelihatan fres dan ke kamar lagi ganti baju pakek lengan panjang dan celana jeans.
Yuuppp………!!!!!! Semua sudah beres dan tampak rapi, tak lupa kuraih kunci sepedah motor dan 2 buah hape langsung kumasukan dalam saku celanaku. Sebelum berangkat ku bbm dulu si Dwi “Ewer” biar siap-siap gitu dirumah, kan langsung berangkat. “Aku merapat ke rumah”, langsung ku enter kiriman pesanku tadi. Tak lupa pamitan pada orang tua mau keluar di malam minggu. Langsung aku ke luar rumah menuju Honda Beat warna putih, ku masukan ganggang kunci lalu kuhidupkan. Cepat ku bergegas menarik gas sepeda motorku ke rumah Ewer, dalam anganku mungkin dia sudah siap menunggu di rumah menanti kedatanganku. Tak terlalu jauh kerumahnya, gak sampai satu kiloan, jadi cepet sampainya.
Sudah sampai di depan rumah, “ttiiinnn ttiinnn” ku bunyikan suara bunyi klakson sepeda motorku dengan suara nyaring, pertanda kalau aku barusan nyampek dirumahnya. Ku masuk rumahnya, eeehhhhh …….. !!!!!!! kulihat ternyata masih asyik aja doi sama komputernya, sendirian di kamar sembari ngelihat sebuah situs ku perhatikan dari belakang. Ya begitulah, temanku dwi “ewer” memang orang suka oprek dengan berbau computer, bisa bahasa pemrograman di dalamnya, doi juga pinter servis computer PC dan leptop, hape Smarthphone, BB, android pun jadi di tangannya. Makanya tak jarang kalau teman-teman punya sedikit banyak masalah tentang Komputer dan Gadget sering minta bantuan padanya.
“Ayooo gek mangkat, wes jam’e low wayae ngopi”, celetukku di sela-sela seriusnya dia di depan layar. “Sik diluk maning ya” sahutnya lirih sambil berdiri dan berjalan keluar kamar, mau cuci muka dang anti baju. Sembari ku bersantai dirumah Ewer, hapeku bergetar dan berbunyi. Kulihat lalu kubaca, “aku wes neng posisi prab”, iki karo cah-cah”, ternyata sms dari mas Relly, yang ternyata memberitahuku sudah berada di posisi tempat kami ngumpul, tampaknya mas Relly memberikan kode untukku agar segera menyusul beberapa saat lagi. “Oke mas, sebentar lagi, aku wes dirumah Ewer”, bunyi pesan sms ku pada mas relly. Ternyata semua sudah pada ngumpul nih di lokasi, semakin ku tak sabar lekas merapat bersama teman-teman.
Tiba-tiba terdengar suara sepedah motor datang nampak kearah sini juga, dari suaranya sih nampak seperti motor matik. Benar saja, yang datang mengahampiri tadi dua orang, masih tetanggan sama Ewer. Ternyata Nur “paluh” berboncengan sama Affiful “tobel” yang tampak kulihat dari balik tirai jendela. Mereka masuk kerumah dengan senyum gembira. “Piye Arya yang laki” celetuk paluh sambil tersenyum kepadaku sesampainya di depan pintu. “Huufffff” batinku kepada paluh dengan menampakkan raut muka menghindar padanya. Aku masih terdiam kemudian paluh Tanya lagi “nandi Ewer”, “masih cuci muka” jawabku padanya. “Nyantae”, kemudian paluh mulai berbiacara lagi padaku, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, akupun tersenyum tapi sedikit.
“Hheeemmmmm……….” Di lain sisi si Apip tampak diam saja dari tadi, mulai datang ke rumah sampai duduk di kursi. Sambil konsentrasi penuh dan tampak berusaha focus Apip dengan tlaten dengan BBnya. Aahhh…..!!!!! batinku, ni mungkin pasti lagi nge bbm sama sama ceweknya nih, yang akhir-akhir ini lagi memberikan yang terbaik untuknya, semangat ya ppiipppppp J . Ewer muncul dari kamar, sudah ganti baju, yang nampaknya sudah siap bergegas, kami berempat pun siap dan berangkat. Dalam benakku  mungkin teman-teman yang lain sudah pada ngumpul di lokasi kami tuju.
Sesampainya di tempat saya lihat kawan-kawan semua sudah komplit nih kayaknya, banyak sekali yang datang malam ini, lalu kuhampiri mereka dan mencari tempat duduk. “Kok lama yud”, sahut mas Relly padaku, yang tampaknya sudah menunggu dan datang dari tadi. “Kerumah Ewer dulu mas” jawabku pada mas Relly sambil senyum, heheheh. Tampak kulihat kak Amri disebelah mas Relly, hhemm lama ku tak melihatnya ngopi dan berkumpul di loji. “Eh kak Amry” sapaku, sambil bersalaman dengannya, kak Amri pun memberikan senyumannya. Disebelah kirinya Nampak Yanu keponakannya kak Amri, mereka berdua fans dari Liverpool dan sering bareng kalau lagi ngumpul. “Arya yang laki” terdengar suara kata itu lagi, heuheuheu, tapi kali ini bukan dari Paluh, tapi sosok Hari Gambir “aman Mbir” sahutku padanya. Di depannya nampak Ranu fans The Gunners Arsenal, Pepen, dan Apip yang duduk bersebelahan, mereka berdua pendukung FC Barcelona.
Di sampingnya nampak Hari “Kancil” yang kelihatan lebih bersemangat malam ini, dan penuh senyum “piye wek” sapaku padanya. “Yow panggah aman situasi” sahutnya padaku, yap selain ngumpul dan ngopi di Loji kami sering ketemu dan ngobrol urusan kantor, karena kami seprofesi bekerja di sekolahan. Selain itu Hari “Kancil” juga berprofesi sebagai bassist group band, dan kendanger di Paguyuban Reyog “Singo Hamengku Djoyo”.  Di sebelahnya agak ke ujung, hheemmm itu si Bolank Rebell namanya aslinya seperti namaku “Wahyu”. Doi seorang drummer nih alias penggebuk drum dan suka music SKA. Tak lama berselang pesan kopi hitam dulu Pak.Wanto. Pak Wanto adalah penunggu warung di pertigaan Loji sini, sudah lama beliau membuka warungnya di sini. “Pak.wanto, kopi hitam kaleh” pintaku pada Pak Wanto sembari melayani pembeli yang lain di dalam. Obrolan-obrolan hangat pun tampak sudah mulai dari tadi, wahhh nampaknya aku ketinggalan.
Heuheuheu, kulihat tampak Mas Relly dan Kak Amri serius sekali ngomongin sesuatu, maklum mereka sudah lama tak bertemu karena kesibukan masing-masing. Yaappp,,,,, Mas Relly baru saja pulang dari Samarinda, doi bekerja sebagai pengajar atau instruktur music Miliknya Om Purwacaraka, keren dan juga sangat piawai mainin dawai senar gitar. Akhirnya kopi pesananku dating juga, kopi hitam selain itu aku jarang pesan. Bersamaan dengan kopi pesananku datang segerombolan pemuda lagi menyambangi kami, ternyata meraka teman-teman kami juga. Tampak dengan tunggangan Kawasaki Ninja nya itu Mas Rendi “Ondel”, di belakangnya ada Benni “Baunk” yang berboncengan dengan Angga “tralala” adiknya Mas Relly, kemudian Rizky “Jiebril” di antara kami semua mereka berdua yang badannya tinggi besar, yang terakhir yaitu duo Aredon si Angga “wawan” dan colour “warna”.
Mereka pun lekas mengambil posisi duduk masing-masing. Suasana ngumpul bareng seperti ini sangat jarang sekali terjadi, pas waktu malam minggu. Disamping kesibukan masing-masing, di antara teman-teman ku juga banyak yang kuliah di luar kota. jadi kalau pulang gini, disempat-sempatin deh ngumpul dan ngekopi bareng di Loji. Kalau mas Relly yang juga fans The Blues Chelsea sama Ewer kadang suka ngomongin soal Gadget, seperti Iphone dan android. Yang aku suka dari mas Relly, doi sering ngasih semangat dan motivasi kepada kami cara bersikap dan berkarya di bidang masing-masing, dan tentunya soal music.
“Heeyyy arya, kamu sini low” celetuk Angga “wawan” padaku. Entah mengapa dia mungkin merasa nyaman di dekatku, mungkin juga mau curhat, aahhh paling iya. “Ahhh sudahlah” jawabku padanya. Tampak kerlingan mata yang tajam kemudian ditunjukannya padaku. “whahahahahahaaaaaaaaa” aku tertawa lebar. Lanjut si Apip sama Pepen yang sedang ngobrol di sebelah tempat duduk Bolank. “ Sesok mangkat jam piro pip” pinta pepen pada apip. “Modok awan ae, mari dhuhuran” sahut Apip menjawab pertanyaan si Pepen. Tampaknya mereka berdua besok sudah mau merencanakan kembali lagi ke Kota Kediri, tempat mereka berkulini iah. Akhir-akhir mereka sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir kuliah alias skripsi, tugas yang paling njlimet selama kuliah, semangat ya Pip dan Pepen.
“Piye kuliahmu pip” Tanya Mas Relly kemudian pada Apip, yang terlihat habis menyruput kopinya. “Woohhh,,,, skripsi toh, gek ndang dimarikne” jawab Mas Relly kemudian yang sedikit memberi motivasi kepada Apip. “Nyantae low Pip” hemm tampak suara khas dari tempat duduk di tengah, itu suara Kak Dedy “adeb”. Adeb yang juga fans Real Madrid ini nampak sedikit senyum sambil berkata tadi. Ya beginilah kami sering “guyon” (bahasa Jawa) berarti bercanda dalam bahasa Indonesia, buat ngilangin suasana suntuk dan menambah cair suasana. Tak terasa waktu sudah lama juga kami nongkrong di warung Loji ini, jam pun menunjukan jam 11 malam, suasana jalanan tampak semakin sepi dan hening dari lalu lalang kendaraan bermotor.
Di pojokan Hari “kancil” Angga “tralala” dan si bolank agaknya sedikit serius memperbincangkan sesuatu, dalam hati ku berkata “mungkin mereka sedang ngobrolin masalah Reyog, karena beberapa hari ke depan Paguyuban Reyog kami akan tampil mengisi beberapa event dan acara dalam rangka ikut memeriahkan HUT RI yang 68. Di sisi lain Kak Amri habis meneguk susu angetnya, nampaknya itu yang terakhir. dan yang benar saja, selesai meletakkan gelas ke meja Kak Amri pun berdiri, kemudian berkata “Ayo pulang cah” kata Kak Amri kepada semua yang hadir malam itu. Di ikuti kemudian oleh Yanu, yang ikut masuk ke warung membayar kopi dan susu angetnya. “Ayo bareng am, aku sisan” tanggap Mas Rendi melihat Kak Amri dan Yanu yang mau pulang, yang nampaknya langsung ikutan pulang bareng. “Ayo-ayo muleh yoooooo” teriak Colour “warna” bersamaan dengan Angga “wawan.
Heemmmm, nampak semua sudah pada mau pulang nih. Yuuppp, kak Amri, Yanu, Mas Rendi, Angga “wawan” sudah menstater motor masing-masing, berpamitan dan langsung pergi dari lokasi. Tak lama berselang kemudian Hari “kancil” Angga “tralala” dan si Bolank pun berdiri dan beranjak pergi, setelahnya. Ranu, Benni “baunk” dan Rizky “Jiebril” pun berselang menyusul kemudian beranjak pulang ke rumah masing-masing. “Waahhhhh……!!!!!!!!!, ayo pulang mas” ajakku pada mas Relly, karena semua sudah pulang dan tinggal kami bertiga dengan ewer yang sedang minum tetesan terakhir kopi hitamnya. “Ayookk prab !!”  jawab mas Relly padaku. Kami pun segera membayar kopi masing-masing kepada Pak Wanto. “Kapan-kapan eneh low mas” pinta Ewer kepada mas Relly yang mengajak nongkrong ngopi bareng lagi di lain waktu. Mas Relly beranjak pergi dahulu, aku dan Ewer kemudian berselang beranjak pergi dari tempat ngongkrong di Loji.
Jalanan semakin sepi sekali, hanya satu sampai dua buah motor saja yang lewat di jalan raya, kulihat jam sudah jam 12 malam dan udara terasa dingin sekali terasa sampai ke tulang. Ku antar Ewer pulang kerumah, sesampainya dirumah kami berpisah.
Begitulah suasanya malam hari itu, malam minggu ngopi bareng-bareng dan ngumpul bersama di pojokan di Pertigaan Loji milik Pak Wanto. Tampak singkat suasana malam itu, dan cepat terasa. Obrolan-obrolan dan kicauan ngalor ngidul kami pun selalu di isi dengan candaan dan bercengkrama bersama. #Kopihitam.

Posted on 10.27 by Unknown

No comments