Jumat, 08 November 2013



Manchester united merupakan salah satu dengan supremasi yang besar dari klub-klub sepakbola di daratan Eropa, mulai dari pemain-pemain yang ada di line-up, manajemen, asisten dan pelatih yang menukangi tim tersebut. Dari sebagian supporter pendukung mereka yangtersebar luas dari ujung satu ke ujung yang lainnya terdapat  supporter fanatik Manchester United yaitu the red army atau jika di bahasa Indonesia kan menjadi Tentara Merah. Mungkin dari dahulu sampai saat ini setahu saya jumlah mereka tentu sangat banyak dapat dikatakan memiliki jumlah sangat besar dengan tingkat hooliganisme tinggi di Britania Raya.

Sementara itu nama The Red Army juga digunakan untuk merujuk kepada fans Manchester United itu sendiri pada umumnya, yang kemudian pada pertengahan tahun 1970-an nama itu kemudian menjadi identik dengan beberapa kejadian-kejadian insiden dan kekerasan menentukan dalam hooliganisme Inggris Raya. Pasa saat tersaji laga – laga kandang maupun tandang Manchester United bentrokkan-bentrokan pada saat itu pun sering terjadi, entah apapun itu sebab dan akibatnya kejadian tersebut. Saya kutip berita dari dailymail.co.uk bentrokan massal terjadi dan terekan terekam pada tahun 1985. Kala itu the red army berseteru dengan hooligan pendukung dari tim West Ham United disekitaran kota Manchester.


Daily Mail, Saturday August 9, 1986, Man Utd V West Ham (sumber dailymail.co.uk)


Sejarah Singkat Red Army (Tentara Merah)

Tentu kalau dijelasin satu persatu secara rinci dan jelas mungkin saya tak akan pernah bisa, karena histori dan sejarah mengenai supporter dan tim Manchester United itu sendiri sudah ada sejak lama sekali, dan itu sudah menjadi dari bagian cerita sejarah d Kota , Inggris. Tapi setidaknya ada sebagian yang bisa saya kutib sedikit cerita dari pejalanan dan kisah Red Army merupakan julukan bagi kelompok hooligans atau fans garis keras Manchester United yang lebih terkenal dengan istilah hooligan firm.

Pada era akhir tahun 70an dan awal 80an merupakan masa-masa dimana Red Army tersebut seakan membusungkan dadanya dan sangat terkenal dengan segala eksistensinya, hingga mendapatkan predikat sebagai kelompok hooligans terbesar di negeri Inggris Raya ada saat itu, yang setahu saya pada kultur tahun yang sama terdapat juga kelompok-kelompok supporter dari klub lain yang juga mempunyai fanatic dan bersifat garis keras lainnya seperti contohnya Chelsea Headhunters (pendukung Chelsea) ataupun Liverpudilan (supporter Liverpool).

Red Army adalah perusahaan hooligan yang mengikuti English sepakbola klub Manchester United. Meskipun saat ini istilah Tentara Merah digunakan terutama untuk merujuk kepada fans dari klub pada umumnya, perusahaan hooligan telah salah satu perusahaan terbesar di sepak bola Inggris. Anggota Firm - dan perusahaan itu sendiri - kadang-kadang dikenal sebagai Pria in Black, karena para anggota berpakaian dalam semua pakaian hitam. Dalam 'jagoan' bukunya, Tentara Merah hooligan Colin Blaney menyatakan bahwa ada juga sub-divisi perusahaan yang dikenal sebagai Munichs muda, Inter Kota Jibbers dan Tikus Moston.

Red Army itu sendiri merupakan  nama yang diberikan kepada away supporters Manchester United selama tahun 1970-an. Yang paling terkenal adalah pada tahun 1974-75, saat United terdegradasi dari divisi utama Liga Inggris dan bermain satu musim di divisi kedua. Red Army yang selalu menyebabkan kekacauan di seluruh negeri Inggris, mengunjungi stadion di mana mereka akan hadir lebih banyak dari pada home fans.

Masih dari berita yang saya baca mereka sering kali berkelahi dengan kelompok dan para supporter hooligans lainnya, yang terutama dengan rival besar terberat mereka saat itu ICF (Inter CIty Firm) yang merupakan kelompok hooligans dari klub West Ham United. Mungkin suasana dan aroma paa saat itu bisa dibayangin sangat kental dengan perkelahian-perkelahian dan saling bersitegang antara satu dengan yang lainnya.

Red Army tampil dalam film dokumenter tahun 1985 berjudul ‘hooligan’ dimana saat itu kelompok hooligans West Ham United melakukan perjalanan away ke Old Trafford dalam pertandingan Piala FA Putaran ke-6,  dan terjadi perkelahian besar dengan antara Red Army dengan ICF di sekitar Manchester seusai pertandingan. Ini menunjukkan Tentara Merah pertempuran dengan Kota Firm Inter (ICF) di sekitar daerah kota Manchester, di Inggris. Mereka juga ditampilkan dalam The Real Football Pabrik seri dokumenter. Sebuah episode dari BBC drama, Hidup di Mars dimaca terdapat sebuag ceripa pendek yang berpusat pada hooliganisme sepak bola dengan fans Manchester United pada tahun 1970.

Tentu seseorang yang menjadi holligans dapat di definisikan dengan banyak arti dalam cangkupan yang cukup luas, tapi ssecara singkat mungkin HOOLIGAN memiliki arti yaitu sekelompok fans bola yang bersifat brutal dan menjurus anarkis  ketika tim bolanya kalah bertanding. Holligan merupakan stereotip dan definisi sepakbola dari Negara Ratu Ellizabeth tersebut. Tetapi kemudian menjadi fenomena global dan sebagian besar dari holligan adalah para backpacker yang telah berpengalaman dalam bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain.

Mereka sering menonton pertandingan yang beresiko besar serta banyak dari mereka sering keluar-masuk penjara karena sering terlibat bentrok fisik. Untuk mengantisipasi adanya kerusuhan, gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan untuk berkelahi, mereka jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim mereka. mereka juga memilih pakaian asal-asalan agar tak dideteksi oleh pihak keamanan, meski demikian mereka tidak menggunakan senjata apapun dalam aksinya para HOOLIGAN biasanya tidak duduk dalam satu tempat bersama-sama dalam stadion, tapi mereka berpencar-pencar.

Anggota Red Army yang paling terkenal saat itu adalah Tony O’Neill ,yang memimpin kelompok tersebut pada akhir tahun 1970 hingga pada sekitar tahun 2001 ketika ia dilarang menginjakkan kaki di seluruh stadion sepakbola di Inggris oleh Pemerintah setempat, dan bisa dipastikan semuanya kenapa dia mendapat hukuman skorsing tersebut. O’Neill telah merilis dua buku tentang hooligan firm tersebut, yaitu Red Army General pada tahun 2004 dan The Men in Black di tahun 2006 dan kini menjadi pimpinan perusahaan Champions Sport Travel penyedia jasa bagi fans United yang ingin menghadiri pertandingan away Manchester United. 

Judul dari The Men In Black berasal dari aggota Red Army  yang dikenal selalu mengenakan pakaian-pakaian serba hitam saat menonton pertandingan, dengan insiden paling dikenang adalah ketika mereka pergi untuk men-support United melawan West Ham di Upton Park, saat itu mereka menyergap para fans Wes Ham mengenakan balaclava. Kegiatan ini telah mereka telah menurun sejak akhir 1980-an sebagai hooliganisme sepakbola pada umumnya telah menjadi masalah yang kurang produktif daripada itu untuk lebih dari satu dekade sebelum itu.




foto Tony O’Neill 

Di saat Red Army mengunjungi suatu kota maka tempat itu akan berdengung, mereka selalu pergi dalam kelompok besar, mereka melakukan perjalanan dengan kereta api, mobil besar, bus/truk atau apapupun kendaraan yang dapat mengangkut mereka ketempat tujuan karena semangat besar mereka guna mendukung tim kesayangannya. Bahkan tidak peduli jarak yang jauh, hujan atau cerah, tetap saja mereka ada di sana, berdiri dan tidak berhenti nge-chant selama pertandingan berlangsung.

Selama bertahun-tahun Red Army selalu hadir di pertandingan United dengan jumlah yang besar, dan kini dalam era teknologi informasi yang sudah mendunia dengan adanya internet, Red Army makin dikenal secara global. Banyak dari fans Manchester United di seluruh dunia mendapatkan inspirasi dari mereka dalam men-support klub kebanggannya terutama dengan chant-chant mereka. Kini semakiin banyak fans United dimanapun mereka berada akan selalu menganggap dirinya sebagai Red Army

Posted on 17.27 by Unknown

No comments

Minggu, 03 November 2013




Ultras adalah jenis penggemar olahraga terkenal karena dukungan fanatik mereka dan menampilkan rumit. Sikap perilaku kecenderungan kelompok ultras mencakup penggunaan flare (red flarehand flare) (terutama di dalam koreografi), dukungan vokal dalam kelompok besar dan menampilkan banner di stadion sepak bola, yang semuanya dirancang untuk menciptakan suasana yang mendorong tim mereka sendiri dan mengintimidasi pemain lawan dan pendukung. Tindakan kelompok ultras kadang-kadang bisa terlalu ekstrim dan kadang-kadang dipengaruhi oleh ideology politik masing-masing paham yang di anut atau pandangan tentang rasisme, dalam beberapa kasus ke titik di mana ideologi asli fenomena ultras, dukungan bergairah dan setia tim seseorang, menjadi ke arah lebih sekunder. Di sini ULTRAS lebih didefinisikan ke dalam kelompok supporter pendukung fanatik dan bersifat “GARIS KERAS”


Histori Ultras Di Italia 

Asal usul gerakan ultras pun masih terus diperdebatkan sampai saat ini, dengan banyak pendukung kelompok dari berbagai negara membuat klaim semata-mata atas dasar menunjukan jati diri mereka sebagai sebuah kelompok yang mendukung sebuah tim. Tingkat sengketa dan kebingungan dibantu oleh kecenderungan kontemporer (terutama di Eropa) untuk mengkategorikan semua kelompok suporter fanatik terang-terangan sebagai ultras. Kelompok pendukung yang bersifat sebanding dengan ultras telah hadir di Brasil sejak 1939, ketika pertama torcida organizada dibentuk yang kemudia mereka sempat tampail di beberap event event besar Piala dunia 1950. Terinspirasi oleh torcidas dan adegan penuh warna di Piala dunia 1950, pendukung Hajduk Split bintang terbentuk  dan torcida kemudian berpisah pada 28 Oktober 1950. Kelompok ini sering disebut sebagai ultras tertua / grup style torcida di Eropa.  
Dari proses dan sejarah yang pernah saya lihat, dari masa ke masa mungkin dapat ditafsirkan negara yang paling terkait dengan berkembangnya gerakan ultras adalah ITALIA. Karena dalam proses yang saya amati pun menempatkan Negara Italia karena jaman dulu di sana terkenal gembong para mafia, ataupun perjudian dalam sepak bola. Ultras pertama dalam sejarah Italia adalah sekelompok pendukung klub sepakbola berusia sekitar 15 sampai 25 tahun yang jelas dapat dibedakan dengan model klasik pendukung sepakbola dewasa, yang lahir sekitar akhir tahun 1960an dan awal 1970an.

Dalam tradisi calcio, ultras adalah "baron" dalam stadion. Mereka biasanya berkumpul di bagian paling murah di stadion, biasanya para ultras Italia berkumpul di tribun belakang gawang yang lebih di kenal dengan CURVA (Curva Nord, Curva Sud) dan biasanya mereka mendapat keringanan tiket oleh klub, dan dengan segera mereka menjadi sebuah karakter unik dari keseluruhan sepak bola Italia. Ultras tersebut menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva itu.

Mereka sangat dapat dibedakan dengan penonton biasa yaitu mereka selalu berkumpul membentuk kelompok- kelompok dengan banner berukuran raksasa bertuliskan nama kelompok (berdasarkan tempat terbentuknya atau kesamaan orientasi politik) dan memakai pakaian- pakaian militer (hardcore ultra) dengan aksesoris wajibnya yaitu parka, sepatu boot Dr. Marten, pakaian perang dan jaket yang dikalungi syal dengan warna klub yang mereka cintai. (sangat kontras dengan penampilan supporter di Indonesia).

Yang pertama kelompok ultras Italia dibentuk pada tahun 1951, termasuk Fedelissimi Granata dari Torino. 1960-an melihat terus menyebarnya dan pengembangan budaya dengan pembentukan Ultras militan dan Spartan Fossa Dei Leoni yang sepengetahuan saya merupakan supporter Ultras dari klub AC Milan. Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurra), Ultras Sampdoria (Sampdoria, 1969) Commandos Monteverde Lazio/CML (Lazio, 1971), Yellow-blue Brigade (Hellas Verona, 1971), Viola Club Viesseux (Fiorentina, 1971), Ultras Napoli (Napoli, 1972), Griffin Den (Genoa, 1973), For Ever Ultras (Bologna, 1975), Black and Blue Brigade (Atalanta, 1976), Fossa dei Campioni dan Panthers (Juventus, 1976), dan Commando Ultra Curva Sud/CUCS (Roma, 1977). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an. 




Ultras adalah istilah yang digunakan sebagai nama untuk pertama kalinya pada tahun 1969 ketika pendukung II SAMP (Sampdoria) membentuk Ultras Tito Cucchiaroni dan penggemar Torino membentuk Ultras Granata. Gaya dukungan yang akan menjadi identik dengan sepak jenis Lega Calcio Seria-A di sepak bola Italia berkembang paling selama tahun 1970 sebagai kelompok yang lebih terbentuk dan dukungan aktif dari ultras menjadi lebih jelas, berbeda dengan budaya "tradisional". Menampilkan koreografi, spanduk dan simbol tanda tangan, bendera raksasa, drum dan kembang api ataupun bomb smoke menjadi norma kelompok-kelompok bertujuan untuk mengambil dukungan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. 

Gerakan ultras tersebar di seluruh Eropa selama tahun 1980, 1990 dan 2000-an, dimulai dengan negara-negara secara geografis paling dekat ke Negara Italia. Efek pada kultur sepakbola negara-negara yang terlibat lebih mendalam di beberapa individu seperti tingkat tertentu organisasi di kalangan penggemar atau tradisi dukungan berwarna-warni telah lama hadir di banyak Negara. Jerman, Belgia dan Belanda tiga negara yang budaya sepakbola yang lebih banyak dipengaruhi oleh sepakbola Inggris dalam perubahan yang signifikan mengalami masa lalu. Maka dari itu sejak akhir era jaman 1990-an sampai sekarang jarang kita jarang sekali mendengar atau cerita tentang Ultras di Negara-negara tersebut, karena mereka mempunyai ranah supporter tersendiri, setahu saya dan bahkan semua orang tahu di Sepak bola Inggris terkenal dengan sebutan Holligans. Sepak bola di Inggris adalah contoh langka dari budaya sepakbola di Eropa yang belum banyak dipengaruhi oleh gerakan ultras.

Ultras cenderung lebih mencolok ketika mereka melakukan perjalanan, dengan bangga menampilkan syal dan warna klub saat tiba secara massal, yang memungkinkan polisi untuk menjaga menutup mata pada gerakan mereka. Kelompok Ultras biasanya didasarkan sekitar kelompok inti pendiri atau pemimpin (yang cenderung memegang kendali eksekutif), dengan subkelompok yang lebih kecil yang digerakan di lokasi tertentu, persahabatan atau sikap politik. Ultras cenderung menggunakan berbagai gaya dan ukuran spanduk dan bendera bertuliskan nama dan simbol dari kelompok mereka.
Kelompok Ultras sering memiliki perwakilan yang bekerjasama dengan pemilik klub secara teratur, terutama mengenai tiket, alokasi kursi dan fasilitas penyimpanan. Beberapa klub menyediakan kelompok dengan tiket murah, kamar penyimpanan bendera dan spanduk dan akses dini ke stadion sebelum pertandingan untuk mempersiapkan pertunjukan. Jenis hubungan ini sangat disukai namun sering dikritik ketika kelompok-kelompok ultras menyalahgunakan kekuasaan mereka.
Hal yang paling sering terjadi adalah perpecahan dalam suatu kelompok akibat masuknya kepentingan partai politik yang memanfaatkan kekuatan Ultras, komersialisasi Ultras dalam memproduksi dan menjual merchandise, atau masuknya kelompok “swing ultras” alias para “glory hunters”. Mereka yang disebut terakhir ini adalah pendukung yang berpindah klub seiring naik-turunnya prestasi klub, sehingga melunturkan nilai-nilai Ultras itu sendiri. Fossa dei Leoni hingga kini tercatat sebagai Ultras yang paling lama bertahan (1968-2005).

Kami supporter bukan seorang penonton !!!!!!

“As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement. This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than everybody else “.
Deretan kata dalam konteks kalimat dari seorang anggota Brigate Rossonere, salah satu ultras AC Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung. Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung 'teatrikal' yang kemudian menjalar ke negara-negara lain.

Ultras sendiri punya kode etik di antara Ultras, yaitu, mereka klo fight itu sifatnya open fight untuk merebut Banner ataupun bendera kebesaran yg jd simbol suatu grup Ultras tertentu. Dalam proses fight tersebut, mereka di larang melibatkan pihak-pihak keamanan terutama Polisi, karna Polisi itu HARAM bagi mereka. A.C.A.B (All Cops Are Bastard) Curva/ Tribun bagi Ultras, POLISI gag boleh masuk ..
Kelompok ultras biasanya berpusat di sekitar kelompok inti pendiri atau pemimpin (yang cenderung memegang kendali eksekutif), dengan sub kelompok yang lebih kecil yang diselenggarakan oleh lokasi, persahabatan atau sikap politik. Sebuah kelompok ultras dapat nomor dari beberapa penggemar untuk ratusan atau ribuan, dengan kelompok yang lebih besar sering mengklaim seluruh bagian dari sebuah stadion untuk diri mereka sendiri. Kelompok ultras sering memiliki perwakilan yang liaises dengan pemilik klub secara teratur, terutama mengenai tiket, alokasi kursi dan fasilitas penyimpanan. Beberapa klub menyediakan kelompok dengan tiket murah, ruang penyimpanan untuk bendera dan spanduk dan awal akses ke stadion sebelum pertandingan dalam rangka mempersiapkan display.
 
Kata Ultras dimaknai sebagai lebih, sangat, luar biasa atau ekstrem atau lebih penegasam kata yaitu masuk ke dalam ranah “garis keras”. Dalam sepakbola Ultras mengacu kepada kelompok pendukung atau fans yang terorganisasi, memiliki kode berperilaku yang bersifat komunal, cenderung eksklusif serta memiliki identitas yang kuat serta loyalitas tak terbatas kepada tim sepakbola yang didukungnya. Ultras lebih daripada sekedar hadir di stadion dan memberi dukungan, ultras adalah sebuah totalitas mental, sikap dan perbuatan dalam mendukung klub, di dalam dan di luar stadion, saat ada dalam kelompok dan saat sendiri, saat menang dan saat kalah, saat klub di puncak kejayaan dan saat klub di nadir keterpurukan. Maka, empat nilai penting pada Ultras adalah kehormatan, totalitas, loyalitas dan solidaritas.
Tepatnya kemudian pada tahun 2009 kelompok Ultras garis keras dari Lazio, Roma, AC Milan, Catania, Genoa dan Napoli kemudian mengadakan sebuah demonstrasi besar di ibu kota Roma menentang penindasan terhadap kelompok suporter Ultras dan pembatasan mereka-mereka yang ingin masuk ke dalam stadion. Mereka mengeluarkan deklarasi bersama. Isi deklarasi ini dapat menggambarkan, bagaimana mentalitas Ultras itu sesungguhnya.  

Ultras, a Way of Life: “Kami berbeda dari yang normal dan biasa. Berbeda dari rata-rata, dari yang umumnya ada. Kehormatan, totalitas, loyalitas dan persahabatan. Ultras adalah tentang nilai-nilai idealisme yang diterapkan sepanjang masa. Ultras bukan tentang yang terbaik atau yang teratas , melainkan tentang mentalitas. Mentalitas yang hanya ada pada Ultras. Mentalitas yang yang lebih kuat dari segala tekanan. Pelarangan masuk stadion dan jeruji penjara, tak ada yang dapat menghentikan kami. Kami Ultras, tindaslah kami, maka bara tekad kami akan semakin besar. Kami memercayai mentalitas Ultras. Sepakbola telah sakit, benar-benar sakit. Semuanya hanya tentang uang, uang dan uang. Sepakbola normal telah diabaikan, stadion tak pernah terisi penuh. Mereka menyalahkan Ultras, tapi kami tahu lebih baik daripada mereka.” “Kamilah bagian termurni yang bertahan dari sepakbola. Kami mengeluarkan ratusan euro dan menempuh ribuan kilometer ke segenap pelosok Italia untuk mewakili kota kami, warna dan klub kami. Kekerasan bukan lagi yang terpenting, karena kalian akan selalu menemukan kekerasan dimanapun kalian berada, di setiap kebudayaan dan di setiap negara. Mereka mengatakan bahwa Ultras merusak sepakbola. Salah besar! Uang, doping, menyuap pemain dan membayar wasit serta pemain yang digaji tak masuk akal tingginya, itulah yang merusak sepakbola. Kamilah yang selalu meneriakkan dukungan bagi tim kami, setiap hari, setiap minggu. Salju, hujan dan teriknya matahari bukan masalah bagi kami. Kami membenci sistem kalian, kami melawan penindasan kalian, dan akan selalu begitu. Ayah-ayah kami dulu memenuhi Curva, kini kami yang ada di sana, dan kelak putera-putera kami yang akan menggantikan. Kami akan menanamkan kepada mereka nilai-nilai yang kami anut, membuat mereka mengerti tentang mentalitas kami, sehingga mereka akan melalui jalan hidup yang sama dengan kami. Generasi tua hilang, generasi baru muncul, tetapi idealisme Ultras akan tetap sama sepanjang masa.”
  
Apapun itu cerita histori yang menyertainya di dalam proses perjalannya dari masa ke masa, sebutan Ultras itu sendiri lebih dari pada sekedar sebuah kelompok pendukung klub ataupun kelompok supporter. Ultras adalah sebuah pilihan tentang jalan hidup yang bersifat modernitas tanpa meninggalkan sisi-sisi dan gaya khas Negara Calcio di Italia serta era yang melekat pada zamanya, gaya hidup dan mentalitas diri, merupakan pembentukan karakteristik pemikiran yang individualis tanpa meninggalkan sifat saling mengerti, jiwa dan sifat pejuang yang Spartan nan militan seakan sudah tertanam sejak mereka lahir turun temurun dari ayah dan ibu mereka. Tentu saja di sini Ultras mempunyai cangkupan maksa yang sangat luas bagi setiap pembaca ataupun penikmat bola di seluruh dunia, tidak hanya melingkupi ranah sepak bola, tetapi di dalamnya juga sangat kental urusan kepemerintahan sosial dan money politik dan juga mafia yang ikut menjadi faktor penting di Negara Italia. Jadi dapat sedikit penyimpulan dari penulis bahwa, ULTRAS IS LIFE “THIS RIGHT” itu mungkin memang benar adanya.   



Fossa Dei Leoni Ultras dari klub AC Milan tahun 1968


Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurra) Ultras dari klub Inter Milan tahun 1969


Ultras Sampdoria (Sampdoria, 1969) 


Commandos Monteverde Lazio/CML (Lazio, 1971)


Yellow-blue Brigade (Hellas Verona, 1971)


For Ever Ultras (Bologna, 1975)


Fossa dei Campioni dan Panthers (Juventus, 1976)


Commando Ultra Curva Sud/CUCS (Roma, 1977) 




Ultras Napoli (Napoli, 1972)


Posted on 20.37 by Unknown

No comments